Potensi Pembalap Indonesia ?? Bagus koq… tapi!!!

Sirkuit Pangkung

Beberapa waktu lalu Ysa bersama anak istri mengisi hari libur dengan plesiran ke pantai. Kebetulan Ysa tinggal di Kota Tabanan jadi tidak perlu terlalu jauh untuk menuju pantai-pantai eksotis Bali :D  . kali ini Ysa menuju pantai Pakung dimana terdapat sebuah sirkuit motocross Pangkung. Bagi pecinta ‘motor tanah’ yang berdomisili di Bali pasti sudah tidak asing dengan nama pantai ini. Setiap weekend khususnya sore hari banyak sekali pembalap motocross yang latihan di sirkuit ini. Awalnya Ysa kira hanya pembalap senior yang latihan, namun setelah melihat sendiri Ysa hanya geleng-geleng kepala melihat anak-anak yang usianya masih sangat muda (kira-kira masih duduk dibangku SD) sudah berani mengendarai motorcross. Walaupun mungkin hanya motor cross yang berkubikasi 75 – 125 cc (Ysa tidak tahu persis) namun skill dan cara mereka membawa motor sama sekali tidak menunjukkan mereka sedang belajar. Berbagai model tikungan dilahap, jumping 4-5 m tingginya melewati table top dsb dilakukan dengan sempurna. Tidak terlihat sama sekali bahwa mereka masih anak-anak (hanya postur tubuh yang bisa terlihat bahwa mereka masih kecil). Di dalam hati Ysa mengatakan sebenarnya bangsa kita punya koq pembalap berbakat di usia dini. Jujur kali ini Ysa benar-benar kagum terhadap pembalap-pembalap cilik ini.

Rider cilik MX

Ketika mereka istirahat melepas topeng helm, yang terlihat tampang-tampang lugu anak kecil. Saling bercanda satu sama lain. Bahkan Ysa melihat dari sekitar 6 pembalap cilik yang latihan hari itu terdapat satu crosser cewek weww…. (calon lady crosser nih). Orang tua mereka yang kebanyakan juga mantan crosser (mungkin) atau pecinta berat cross setia mendampingi mereka dipinggir sirkuit. Bahkan ketika seorang ibu yang melihat anaknya menaiki Husqvarna 125cc (seukuran KLX) dengan dipegangi seorang mekanik (ketinggan tuh motor) sampai teriak.. “lha itu kalo jatuh gimana.. wong kaki’nya nggak sampai tanah?” si bapak langsung menimpali santai “ ya kalau jatuh yo bangun to ma… “😀  hehehe… sama sekali tidak ada raut muka takut di wajah sang bapak. Ya dengan entengnya si anak tersebut melanjutkan latihannya dengan membawa motor ‘dewasa’ yang semakin membuat Ysa tambah geleng-geleng kepala lagi. “Koq wani tenan tho le.. le”.

2009-KTM-65SXc

Rata-rata motor yang dipakai mereka baik Senior maupun Junior adalah motor kompetisi. Tidak ada motor trail jalanan semacam KLX yang digunakan untuk latihan. Ada instruktur yang mencatat lap time dan mengatur maupun memberi arahan ketika mereka latihan. Ysa cuma berfikir ini potensi yang harusnya bisa tergarap. Ketika para bocah cilik tersebut di usia yang masih sangat muda (under 10 th) sudah ‘fasih’ membawa motor dan berkompetisi secara resmi tentunya ketika mereka besar skill dan mentalnya sudah benar-benar terasah. Ysa teringat historis Lorenzo yang sudah bisa ‘bermain’ motocross sejak usia 4 th karena sang ayah yang seorang penjaga sirkuit cross (CMIIW). Dan memang di luar negeri sono pembibitan pembalap dimulai di usia 5 tahunan. So… kenapa di Indonesia belum muncul pembalap motor berbakat sampai sekarang (level internasional)?? Jika di roda empat kita sudah punya Ananda Mikola, Rio Haryanto, Rifat Sungkar, dan Subhan Aksa yang mampu bersaing di papan menengah di masing-masing event yang mereka ikuti. Tapi di dunia motor pembalap kita hanya ditargetkan untuk bisa finish 20 besar (bahasa halusnya papan bawah). Tanpa mengurangi apresiasi kepada mereka namun itulah fakta yang terjadi saat ini.

Jika pembalap MotoGP (taruhlah 5 besar) rata-rata kita mengenalnya, bagaimana dengan para crosser Internasional?? Ada yang bisa nyebutkan Juara Dunia Motocross tahun lalu nggak?? Atau jangan terlalu jauh, Juara Nasional Motocross 2012 siapa ya? (Jujur Ysa juga tidak tahu). Tapi jika kita disebutkan nama Dony Tata , Sigit PD, M Fadli, Denny Triyugo, Rafid Topan atau Hendriansyah paling tidak 1 dari 6 nama tersebut kita mengenalnya. Perbedaan balap aspal dengan balap tanah mau tidak mau membawa perbedaan dalam hal publisitas.

indoprix2013_seri_1_ip100cc_01

Aspek marketing sangat berpengaruh disini. Tidak bisa dipisahkan, ketika ATPM terjun ke dunia balap tentu tidak hanya sekedar balap doang, tapi sekaligus menjadi ajang pembuktian dan promo akan produk mereka. Disitulah tercipta sebuah industri tersendiri. Balap road race (non sirkuit) jauh lebih ramai dibanding balap motocross… padahal jenjang balapnya mentok. Sedangkan balap Motocross jenjangnya sangat jelas (ada level nasional, regional, dan Internasional), motornya juga sama. Industri balap yang disokong ATPM secara perlahan memberikan ‘kepuasan’ akan tontonan balap aspal… namun tidak memberikan prestasi yang membanggakan di kancah Internasional. Sama seperti sepakbola kita.. masak dari 250 jt penduduk mencari 11 pemain sepakbola saja masih kalah dengan Thailand atau Malaysia yang penduduknya tidak ada setengah dari kita?? Jawabannya ya karena iklim kompetisi yang terbangun (jumlah pemain asing, wasit, penonton, dsb) sudah menjadi industri yang sayang untuk ditinggalkan (ratusan Milliar bahkan trilliun berputar di sepakbola Nasional). Dampaknya masalah prestasi???😀 kita sudah terjebak dalam kepuasan lokal (Itu mungkin pendapat pribadi Ysa). Back to balap motor…. terus siapa yang berperan dalam hal ini agar pembalap Indonesia memiliki prestasi Internasional?? Next artikel coba kita bahas ;)  untuk sekarang kita yakin dulu kalau anak-anak bangsa punya potensi koq untuk mendunia…. tapi mari dibenahi sistem pembinaannya… batul nggak masbro??

Kuranglebihnya mohon maklum, maturtengkyu sudah mampir.

2013-05-05 17.32.27

Numpang Nampang😀

4 thoughts on “Potensi Pembalap Indonesia ?? Bagus koq… tapi!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s