MotoGP Jerez: Pedrosa Menjawab Kritik, Marquez vs Lorenzo (Agresif vs Sportif)

Pedrosa Sepang

MotoGP Jerez kemarin yang dimenangi Dani Pedrosa dan dibumbui oleh aksi ‘senggolan’ Marquez dan Lorenzo di Lorenzo’s Corner😀 , mungkin kemenangan Pedrosa memang berita bagus untuknya dan para fans’nya, namun insiden  ditikungan terakhir antara Lorenzo dan Marquez akan menjadi cerita seru yang akan terus berlanjut kedepan menjadikan bumbu balap MotoGP semakin enak untuk ditonton. Jika melihat race di Jerez kemarin setidaknya ada tiga hal yang Ysa dapat gambarkan diluar race kemarin.

Pertama mengenai Pedrosa yang sebelum race Jerez diragukan  oleh banyak pihak. Bahkan mantan juara dunia GP 500 1993 Kevin Shwants sempat melontarkan kritik tajam ke Pedrosa melalui twitter. Keberadaan Marquez yang di dua race sebelumnya mampu tampil lebih baik dibanding Pedrosa semakin memojokkan Pedrosa. Dan ketika diposisi tersebut biasanya Pedrosa memang baru bisa menunjukkan kemampuannya. benar saja di Jerez ini Pedrosa benar-benar on fire. Membungkam kritik dan keraguan yang tertuju kepadanya. Ibarat bola ketika ditekan maka dia akan mempunyai kekuatan rebound yang lebih kuat. Namun kelemahan Pedrosa ketika di diposisi diatas dan ada tekanan maka mentalnya turun sebagaimana race di Phillips Island tahun lalu. Jadi perlu kekuatan mental baginya untuk menjadi juara dunia tahun ini. Karena secara skill dan motor dia memiliki yang terbaik.

Lorenzo_Marquez_02

Kedua, mengenai insiden Lorenzo dan Marquez. Jika dilihat secara historis kebelakang typical marquez sama dengan Rossi dan alm. Simoncelli yang agresif dan berani mengambil risiko bagi dirinya maupun pembalap lain. Aksi overtaking yang ‘nekat’ memberikan daya tarik MotoGP kembali menguat. Semua pihak memahami bahwa itu adalah aksi balap (di race), semua pembalap pasti memiliki passion untuk menjadi yang terbaik (apapun resikonya). Kategori agresif menjadi satu kutub yang harus tetap terjaga agar jantung pemirsa di ketika menonton tetap bisa berdegub kencang. Sedangkan gaya membalap Lorenzo, Pedrosa, maupun Stoner lebih sopan (sportif). Segala aksi di race penuh dengan perhitungan matang bagi dirinya maupun pembalap lain “Jika tidak bisa menyalip ya tidak maksa daripada jatuh dan menjatuhkan yang lain” mungkin seperti itu filosofinya (mungkin lho… ) secara historis ketiga rider di kutub sportif ini lebih banyak menjadi korban para rider di kubu agresif. Masih ingat bagaimana Pedrosa yang harus patah tulang bahunya akibat manuver alm. Simoncelli, bagitu juga Stoner yang ikut dibawa ndlosor Rossi ketika wet race di Le Mans (CMIIW), dan Lorenzo yang sering bersenggolan baik dengan Rossi, Simoncelli dan sekarang Marquez. Dua kutub yang memiliki akar kuat dalam sifat individu rider itu sendiri dan hanya Race Director’s dan Dornalah yang bisa membuat batasan (dengan aturan) agar balapan tetap safety bagi pembalap namun juga tetap menarik untuk ditonton.

Ketiga, mengenai Valentino Rossi…. hemmm… jujur setelah race Qatar ekspektasi tinggi banyak kalangan terhadap kembalinya Rossi ke Yamaha semakin meningkat. Race Austin memang bisa dimaklumi the Doctor tidak mampu berbuat banyak karena M1 memang kurang kompetitif di trek cepat. Namun di race Jerez dimana karakter sirkuit cocok dengan Yamaha, sama sekali tidak ada aksi memikat yang dipertontonkan Rossi selain overtaking Marquez di awal-awal lap yang kemudian kembali di overtake Marquez di lap berikutnya. Dengan spek pabrikan, segudang pengalaman, dan kematangan yang sudah sangat matang sebagai pembalap senior MotoGP seharusnya The Doctor mampu meramaikan perebutan podium. Walaupun tidak sampai podium namun minimal ada perlawanan terhadap tiga rider spanyol. Keraguan kembali menghampiri para pengamat, apakah kemampuan seorang Rossi memang sudah menurun sejalan dengan usianya yang semakin tua. Mungkin jawabannya baru bisa dilihat di race ke-empat di Le Mans Prancis nanti. Dimana karakter sirkuit yang mirip dengan Jerez tentunya tidak ada alasan bagi seorang Rossi untuk tidak perform nantinya.

MotoGP memang masih di awal musim, namun atmosfir sudah mulai memanas, sang juara dunia Lorenzo harus menghadapi rider agresif baru Marquez sepeninggal alm. Simoncelli. Pedrosa harus menjadi Juara Dunia tahun ini (the last chance) karena tahun depan dipastikan Marquez akan lebih matang. Dan Rossi harus membuktikan bahwa dia tetap seorang The Doctor yang kali ini harus mengobati dirinya sendiri (bukan pada tunggangannya). So… stay tune di setiap race MotoGP 2013.

6 thoughts on “MotoGP Jerez: Pedrosa Menjawab Kritik, Marquez vs Lorenzo (Agresif vs Sportif)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s