Mencintai Produk Lokal itu Memang Sulit

cintai-produk-dalam-negri

Mungkin tidak hanya dialami Ysa saja, masbro semua mungkin juga terkadang mempertanyakan kualitas produk-produk Indonesia. Slogan “Cintailah ploduc-ploduc Indonesia” yang diperkenalkan bos Maspion tampaknya hanya berlaku untuk produk Maspion saja. Selain Maspion ehmmm….. hanya bisa angkat bahu nggak berani recomend ketika kita dimintai saran. Rasa Nasionalisme tinggi dengan harapan bangsa Indonesia bakal memiliki sebuah produk dengan level Internasional (eh kejauhan… Regional di Asia Tenggara saja) pasti tersimpan dalam hati kita semua. Ysa mencoba mencari (dalam ingatan) produk Indonesia yang mendunia apa sih? Kalau kita dengar Maspion, Polygon, KYT, AHRS, apalagi ya?? (silahkan ditambahi) setidaknya kita memiliki keyakinan akan jaminan kualitas, tapi belum sampai dalam taraf kebanggaan sebagaimana kita menggunakan merk Jepang, Eropa, atau Korea.

first_locomotive_in_japan

Di waktu kuliah dulu Ysa pernah membaca sebuah buku yang bercerita tentang dinasti Jepang. Kalau tidak salah ketika periode kekaisaran Meiji, sekitar akhir dekade 1890’an. Saat itu jepang masih belum apa-apa dan tidak dianggap sebagai sebuah negara digdaya sebagaimana Inggris, Spanyol dan Portugal. Di Waktu itu kekaisaran Jepang membeli sebuah mesin lokomotif (KA) dari Amerika, suatu hal yang aneh mengingat Jepang belum memiliki infrastruktur jalan kereta api. Memang bukan digunakan untuk alat transportasi, namun untuk dibongkar dan dibikin tiruannya. Setahun setelahnya mereka akhirnya mampu membuat lokomotif yang sama persis dengan Lokomotif asli yang dari Amerika. Dan di dua tahun berikutnya Jepang sudah mampu membuat sendiri Lokomotif yang lebih baik dari lokomotif pertama. Sungguh sebuah usaha keras dan dimulai dari sebuah hal yang ‘pantang’ dilakukan saat ini (plagiator). Tiongkok mungkin identik dengan kata tiru-meniru, namun hal itulah yang membuatnya menjadi Negara kuat di dunia dalam hal ekonomi. Dan progress sebagaimana Jepang lakukan untuk besar pun mereka ikuti. Beli, bikin tiruan, buat lebih baik dan lebih murah dan terakhir sukses.

karya200cc

Nah sekarang otomotif Indonesia??? Produk seperti Viar, Happy, dsb memang patut diapresiasi. Tidak hanya sekedar acungan jempol doang, pertanyaannya … mas bro berani nggak beli produk dengan dua merk tersebut??? Ysa sendiri mempunyai satu motor (milik ortu sih) merk Happy type Jet Z (mirip Jup Z), kurang lebih usianya sekarang menginjak 7 tahun. Dan masih bisa berjalan normal, walaupun top speed mentok di 60-70 kpj dan pernah service besar habis sekitar 200rb’an (tidak sampai turun mesin) namun secara peruntukan normal, its no problem. Masih dalam batas kewajaran jika dibandingkan harga belinya yang kisaran di 6-7 jt. Cuma ya harus diakui produk lokal tetap saja kalah kualitas dengan produk luar (walupun dirakit disini). Bangsa kita sebenarnya mampu namun sudah kalah start dengan Jepang. Sehingga untuk mengejar ketinggalan sudah sangat jauh. Ide seorang Dahlan Iskan dengan mobil listrik nasional sebenarnya bagus. Belum banyak yang mengembangkan. Ya walaupun hasilnya rem blong, baterai habis, dsb itu tak lebih sebagai resiko dari sebuah proses. Disinilah hal yang sangat sulit, penerimaan masyarakat akan kekurangan sebuah produk sangat sensitif. Sedikit saja cacat atau rusak…. dijamin imej langsung hancur. Terutama bagi ‘pemain baru’.

Tuxuci JPNN doc

Koq g’ ada kabarnya sekarang yah?

Sebuah perusahaan lokal butuh berkembang, berkembang butuh riset and development, R n D butuh biaya, biaya ditutup dari penjualan, penjualan tergantung pasar, pasar tergantung persaingan, persaingan akan tergantung penerimaan masyarakat, penerimaan masyarakat tergantung kualitas produk, kualitas produk tergantung pabrikan, pabrikan kuat tergantung dept R n D. Mbulet ora??😀 Sebuah siklus yang muaranya sangat tergantung pada penjualan. Intinya ketika sebuah produk nggak berkualitas jangan harap bakal diterima, nggak peduli dianggap Nasionalis atau tidak, yang menjadi pertimbangan bahwa kita membeli dengan uang hasil jerih payah kita. Jika hasilnya tidak sesuai harapan ya kuciwa. Konsistensi merk lokal harus dijaga sehingga tidak terkesan Hit and Run. Disinilah peran pemerintah dalm hal regulasi. Seandainya jika motor di Indonesia hanya boleh produk dan merk lokal yakin Indonesia akan lebih cepat berkembang. Namun pertanyaannya kemudian, sampeyan mau atau tidak?? G’ ada motor V-ixion, Vario, Beat, CB150R, Mio, FU, Ninja, dst…. berani atau tidak, demi produk nasional??

wani-piro

Jawabannya, emang sulit mencintai produk lokal kan??😀

Mohon maaf kalau ada kurang lebihnya. Maturtengkyu sudah mampir

10 thoughts on “Mencintai Produk Lokal itu Memang Sulit

  1. Di era pasar global begini, agak sulit menyuruh orang beli produk lokal. Jangankan di Indonesia yang kualitas produk lokalnya diragukan, di Jepang pun masyarakatnya mulai beli Ford, dan makan di Mc Donals. Tuntutannya tidak hanya ke konsumen harusnya, ke pemerintah juga. Pemerinyah berani gak kasih intensif, misalnya keringanan pajak, atau pegawai negeri harus pakai motor A.

    • yups sangat tahu. makanya ane tulis “Cuma ya harus diakui produk lokal tetap saja kalah kualitas dengan produk luar (walupun dirakit disini)” dirakit disini, bahan jg lokal, dan pegawai jg lokal… namuan😀 tetap saja merk asing.
      harapannya sih buatan lokal dan merk lokal (jadi duitnya kgak lari kmana2😉 )

  2. kalau dalam hal permotoran,mungkin kita baru akan punyA produk yang ‘handal’ jika AHM berani cerai dengan honda dan YIMM juga berni talak dg YAMAHA jepang.dan menjadi produsen mandiri.. tapi…. BERANI,KAH..???? dan MAMPU , KAH..???? *Tanda tanyanya uokeh,kang… :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s