SIM Sakti: Alternatif Solusi Pelanggaran, Kemacetan, dan Pengendalian BBM bersubsidi

drivers-license-iclip

Mungkin terlalu berlebihan Ysa memberi judul SIM Sakti. Walaupun maksud dari artikel ini bukan mencoba untuk mengatakan SIM yang sakti dalam arti harfiah bisa melakukan hal-hal luar biasa. Namun sebuah Multifunction Card yang dalam hal ini diwakili oleh sebuah kartu Surat Izin Mengemudi. Melihat berita dan video di Youtube kemarin tentang seorang oknum polisi di Bali yang menerima atau memberikan jalan ‘damai’ yang non prosedural kepada seorang bule yang melanggar aturan lalu lintas, Ysa tidak sengaja mencoba ‘menghayal’ bagaimana solusi untuk menghindari atau minimal mengurangi praktek-praktek tidak terpuji para petugas lalu lintas di lapangan. Ketika hal ini bisa terwujud, bukan tidak mungkin angka kecelakaan akan berkurang, kemacetan juga berkurang dan yang pastinya pemborosan APBN untuk subsidi BBM juga akan berkurang. Mungkin terlalu jauh pikiran Ysa untuk sampai kesana, namun tidak ada salahnya Ysa coba menyampaikan dalam blogg sederhana ini sebagai curahan hati dan pikiran Ysa sebagai sumbangsih ide bagi negara ini.

Seandainya ada sebuah alat kontrol yang terintregrasi dengan banyak aspek khususnya transportasi maka akan sangat mudah mengarahkan para pelaku transportasi untuk mengikuti aturan yang telah ditentukan. Selama ini banyak sekali aturan yang ditetapkan terkait lalu lintas yang bertujuan baik, namun banyak dilanggar oleh para pengguna. Selain karena masih minimnya kesadaran juga pengawasan atas pemberlakuan aturan lalu lintas yang ‘terbatas’ (keterbatasan SDM). Maklumlah mas bro, mengatur jumlah motor yang tumbuh 6 jt unit per tahun dan mobil yang dimiliki 6 dari 100 orang di Indonesia tentunya sebuah hal yang amat sulit (namun tetap harus dilakukan, apapun caranya).

Ok to the point. Kita bahas masalah satu persatu.

anak-smp-naik-motor

Pertama : Akses kepemilikan SIM.

Sudah umum bagi kita semua, pengurusan SIM sangat mudah dilakukan oleh siapa saja. Bahkan seorang anak kecil yang belum genap 17 tahun (17 bukannya ganjil yah😀 ) bisa mempunyai SIM. Sering Ysa temui di kota besar anak-anak SMP yang menggunakan motor sebagai kendaraan ke sekolah. It’s real!! IMHO dengan sistem E-KTP harusnya mudah sekali untuk memonitor atau memastikan bahwa dalam setiap pengajuan SIM data yang teregister sama dengan data E-KTP. Simple bukan?? Jika masih dibawah umur ya langsung tolak. Sehingga dipastikan pengendara kendaraan bermotor telah memiliki SIM, jika tidak maka PELANGGARAN (sengaja pakai caps lock karena akan banyak ditemui dikalimat-kalimat berikutnya😀 )

Tilang

Ilustrasi

Kedua : Tilang di tempat.

Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di lapangan penyelesaiannya kebanyakan di tempat. Maksude?? Yah kalau kita kena tilang, mayoritas pengguna kendaraan malas atau tidak sempat jika harus ke persidangan untuk membayar denda disana. Jika bisa dibayar di TKP yah di TKP saja, tidak perlu dua kali harus berurusan terkait tilang tersebut. dan biasanya ketika bayar di TKP ‘bisa nego’😀 .

Ysa tidak terlalu paham UU lalu-lintas apakah membolehkan langsung membayar denda tilang di tempat?yang jadi pemikiran Ysa mungkin tidak jika tilang dilakukan ditempat, langsung berbentuk sangsi,  dan membatasi ruang gerak si pengendara dan  sekaligus menghindarkan aparat kepolisian dari praktek ‘jalan damai’? sekali dayung 2-3 putri duyung didapat😀

alphard-out

Ketiga :  Kontrol penggunaan BBM.

Pembatasan tahun kendaraan, penempatan stiker bagi kendaraan BUMN, Pemerintah, TNI & Polri, penempatan kamera CCTV ternyata tidak cukup efektif untuk menekan penggunaan BBM bersubsidi di kalangan rakyat ‘mampu’. IMHO karena secara teknis tetap bergantung ke SDM (petugas) di SPBU. Mau dicat warna khusus tuh mobil, jika petugasnya SPBU menoleransi penggunaan BBM bersubsidi, “what can we do?” sangat lemah alat kontrol untuk memastikan ribuan SPBU menjalankan instruksi pembatasan BBM bersubsidi.

Adakah sistem yang terautomatisasi yang ketika si pengendara mengisi BBM maka langsung mengetahui dan ‘mengeluarkan’ BBM yang sesuai (subsidi atau non subsidi)? No tolerance. Mau TNI, Mau Polri, Mau Menteri😀 ketika SPBU automaticly recognized bahwa anda golongan ‘pertamax’, maka anda hanya bisa menggunakan BBM non subsidi. Tidak ada kompromi. Kalau tidak mau ya tidak usah mengisi BBM. Satu lagi bahwa yang berhak mengisi BBM di SPBU adalah yang memiliki SIM. Yang tidak memiliki SIM ya Pelanggaran aka tidak bisa.

Antri Tol

Ke-empat : Antrian kendaraan di Gerbang Tol

Ide penerapan Tol Card yang tinggal gesek ketika masuk di tol memang sangat efektif untuk antrian di pintu masuk tol. Hanya perlu gesek kemudian jalan. enggak perlu lagi nyiapin uang pas, kalau uangnya lebih masih menunggu uang ‘susuk’ (kembalian), atau jika kembalian tidak genap si pengendara juga tidak sakit hati (ngedumel dalam hati😀 ). IMHO Tol Card hanya bisa ataupun mayoritas dimiliki kelas menengah ke atas, sedangkan kelas menengah ke bawah kelihatannya belum melirik hal tersebut. lha kan pengguna tol bukan hanya kelas menengah ke atas? Tuh supir truk, taxi, bis juga bisa dikatakan kelas menengah ke bawah yang belum tentu paham akan hal-hal yang berbau elektronik card.

Tidak hanya antrian di Tol, antrian di pelabuhan penyebrangan, atau Jembatan Suramadu juga sangat miris ketika musim mudik. pastinya antrian tersebut juga disebabkan karena proses pembayaran tiket masuk. Tapi toh mereka semua punya SIM kan?kalau tidak punya ya tidak boleh masuk Tol (kan sudah pelanggaran). Sekali lagi kuncinya SIM card.

Parking gate

Ke-lima : Kontrol Area Parkir

Selama ini ketika masuk keluar areal parkir, terutama yang dikelola oleh pihak swasta, pastinya ada ongkos parkir yang harus dibayar. Uang receh lagi, antrian lagi, kembalian lagi… betul g?ada proses antrian yang harus dilewati (wasting time). Belum lagi jika pihak Pemkot dalam hal pajak daerah atau retribusi juga tidak memiliki akses untuk mengetahui berapa hak pndapatan yang diperoleh Pemda dan retribusi parkir yang dipungut oleh para pengelola parkir?

Satu lagi, jika ada pencurian kendaraan di areal parkir tentunya akan sangat sulit mengidentifikasi siapa pelakunya. Karena ketika pelaku keluar parkiran dia sama sekali tidak perlu menunjukkan identitas apapun. Hanya perlu tiket masuk yang dicocokkan dengan nopol oleh petugas (lha kalau nopolnya diganti?)selama ini kasus kehilangan kendaraan di parkiran hanya sampai di pengadilan (ganti rugi pihak pengelola), namun tidak sampai mengetahui siapa pencurinya?

baik mobil atau motor yang masuk ke areal parkiran mall, atau perkantoran, dsb. Pastinya sang pengemudi harus memiliki SIM kan?jika tidak berarti pelanggaran (lagi). Ketika keluar parkiran hanya tinggal gesek SIM anda tanpa perlu bayar dan tidak menyebabkan antrian tentunya akan lebih mudah dan praktis. Dan ketika ada yang kehilangan tinggal dilacak saja databasenya (kan sudah lengkap identitas si pencuri😉 )

ERP

Ke-enam : rencana Pemda DKI yang menerapkan ERP (electronic road pricing) untuk menekan angka kemacetan juga patut didukung. Entah secara teknis bagaimana, apakah juga akan membangun gerbang-gerbang pintu masuk sebagaimana masuk Tol atau cara yang lain. Namun pastinya ada alat untuk melakukan pembayaran karena terkait dengan harga. Jika dengan e-card, bagaimana alat kontrolnya?siapa penegak hukum yang berkewajiban mengontrol? Polisi? Bagaimana polisi tahu jika saldo kartu pengguna habis? Kenapa tidak sekalian pakai SIM card saja? Dimana SIM sudah menjadi domain polisi. Tinggal dibikin untuk gate untuk gesek SIM saldo otomatis berkurang.

Dari lima hal diatas Ysa coba memberikan sebuah ide melalui Surat Izin Mengemudi Sakti😀 yang multifungsi. Sebuah SIM yang berlaku seperti credit card yang memiliki identitas jelas dan teregister di Polri namun juga bisa melakukan fungsi pembayaran terkait transportasi. Dengan model saldo pra bayar sehingga memudahkan si pengguna untuk melakukan isi ulang di counter-counter HP umum. Jika hal ini diterapkan problem dari ke-empat hal diatas (yang pertama murni domain Polri) akan sangat terbantu untuk dipecahkan. Ysa coba rinci lagi (tambah panjang je…..😀 )

1. Jika melanggar dan tilang langsung saja SIM kita digesek dengan alat gesek SIM (dibuatkan semacam model alat gesek kartu kredit yg lebih praktis dan mobile sehingga bisa mudah dibawa oleh para Polantas) berdasarkan jenis pelanggaran. Otomatis saldo kita berkurang sesuai denda tilang. Tidak perlu lagi repot ke persidangan. Selesai di tempat, sangsi kena, denda bayar, ‘no money no damai’ (kalau pengguna dan oknum polisi tidak mencoba menawarkan jalan damai).

2. Pengisian BBM cukup menggunakan SIM. Jika SIM C ya cuma bisa mengisi di Pompa BBM Motor, mungkin bisa dibatasi jumlah pengisiannya maksimal 100rb (premium) dalam rentang waktu 6 jam. Begitupula untuk SIM A hanya bisa mengisi BBM di Pompa Mobil. Mungkin bisa dilakukan pembatasan juga dengan mekanisme yang diatur kemudian (contoh a.n. Yanu Sakti hanya boleh mengisi premium untuk mobil setahun dengan jatah 500 liter. Lebih dari itu SIM hanya bisa digunakan untuk mengisi Pertamax).

Kalau begitu lebih enak beli Bensin eceran dong?? Tidak juga, karena penjual bensin eceran juga harus beli BBM di SPBU dengan SIM mereka dan juga ada limit tertentu dalam satu hari. Selain itu prosentase pembelian di BBM eceran tidak siginifikan dibanding pembelian masyarakat di SPBU. Atau mau yang lebih ketat lagi tinggal di cocokkan data identitas SIM dengan e-KTP dan NPWP. Bisa dilakukan klasifikasi lanjutan kepada si pemegang SIM. Apabila diketahui si A pajaknya digolongkan kelas mampu, maka di chip SIMnya dibatasi hanya boleh menggunakan BBM non subsidi. Tergantung bagaimana Pemerintah dan Pertamina mengaturnya kemudian. Yang jelas ada pola pengawasan dan kontrol yang sistematis dengan sistem SIM card ini.

Hal lain adalah ketika seorang pengendara yang habis terkena tilang automatis saldo berkurang (minus) dan tidak segera mengisi ulang saldo SIM, ybs juga tidak bisa mengisi BBM di SPBU resmi (menambah efek jera bagi para pelanggar). Perputaran uang di SPBU juga berkurang dengan sistem gesek, pengelola tidak perlu banyak karyawan untuk pengelolaan, masyarakat tinggal gesek sendiri, isi sendiri….. beres.. Selain itu dari aspek keamanan SPBU juga lebih terjamin, lha yang mau dirampok apa? wong nggak ada uangnya😀

3. Pembayaran tiket jalan tol (jalan berbayar) akan sangat praktis. Petugas hanya perlu melihat dan menginput golongan kendaraan kemudian membuka gerbang tol, sementara pengemudi hanya tinggal gesek SIM kemudian saldo otomatis berkurang sesuai harga tiket golongan kendaraan yang diinput petugas tadi. Begitu juga penerapan di jalan-jalan berbayar lainnya. Tinggal bikin gate untuk gesek SIM, saldo otomatis berkurang. So…. simple kan?

4. terakhir terkait areal parkir. Dengan sistem gesek SIM juga akan mempersulit ruang gerak bagi pengendara yang ‘tertilang’. lha kalau saldo habis ya tidak bisa parkir di tempat parkir berbayar (yang tentunya lebih aman). Parkir dipinggir jalan ya resiko ditanggung sendiri. Selain itu pergerakan seorang ‘suspect’ kriminal juga akan mudah terdeteksi karena setiap dia bergerak maka akan tercatat dimana saja dia mengisi BBM, masuk tol kemana, parkir dimana. Upaya penangkapan juga relatif lebih mudah.

Terlepas ide ini bisa dijalankan atau tidak, secara prinsip sangat sederhana. Jika digambarkan adalah sebagai berikut

E-SIM

Tentunya tidak mudah mewujudkan hal tersebut. perlu kerjasama antar instansi baik pemerintahan, Polri, Perbankan dan tentu saja masyarakat. Memang tidak seluruh Indonesia bisa langsung diaplikasikan, namun dapat dimulai dari DKI Jakarta sebagai proyek percontohan. Ketika Jakarta berhasil maka tentunya lebih mudah mengaplikasikannya di kota-kota lainnya di Indonesia. Ysa sendiri kurang paham apakah secara Undang-undang boleh menggunakan SIM sebagai alat pembayaran (khusus transportasi). Karena jika terhalang Undang-undang juga berat (perlu peran DPR juga untuk merumuskannya). Terlepas dari mungkin tidaknya diaplikasikan ada harapan dengan sistem ini angka kecelakaan dapat ditekan, kemacetan juga berkurang, Subsidi BBM dapat dikendalikan, petugas juga lebih bisa dipercaya, tugas menjadi ringan, pendapatan daerah bertambah, Bank ada tambahan simpanan (saldo), peluang usaha juga bertambah (counter rumahan). Ada banyak keuntungan yang diraih. Tinggal bagaimana negara mengaplikasikannya.

Ide sederhana ini memang jauh dari sempurna, mungkin mas bro bisa urun rembuk atau juga bila sependapat bisa menyampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Kurang lebihnya mari dikomentari. Semoga bermanfaat, maturtengkyu sudah mampir.

Pict from Google

15 thoughts on “SIM Sakti: Alternatif Solusi Pelanggaran, Kemacetan, dan Pengendalian BBM bersubsidi

    • iya sama ky’ kita kehilangan kartu2 lainnya (ATM, kredit card, KTP) pasti pertama juga langsung ke kepolisian dulu untuk minta surat kehilangan. klo ini berlaku bisa sekalian langsung diblokir.
      toh sistemnya saldo pra bayar. jd kalaupun kepake ya cm saldo aja yg habis (g’ bisa lebih). paling jg cm buat ngisi bensin (tidak bisa buat transaksi yg lain).bisa langsung ke detect juga siapa yg makai.

  1. idenya bagus bro, plng g sec. bwt jangka panjngny, bertahap satu dari ide ini bs segera di eksekusi.. sdng singkatnya, ap yg ad skrang di perbaiki total smua manajemen nya..

  2. itu fungsinya mirip smart card berfungsi buat segala macam, … tapiiiiii

    dengan adanya alat itu otomatis banyak “pihak” yang dirugikan karena enggak dapat objekan. dan para “pihak” tersebut kan ujung ujungnya nyetor ke “atas” nah pas di “atas” itu akan di jegak … nuff said😆

    • INWYM mbah.. tergantung empunya kartu. mau maju berkembang mengatasi masalah atau just like this…..
      kecuali jika ini sdh ke level RI 1. mgkn akan lebih mudah (entah di legislatif). ato tunggu pak Jokowi ato Pak Dis jadi RI 1 (koq jd ke politik😀 )… tp secara ‘teori’ hal ini kan rasional untuk bisa diwujudkan?betul g?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s