Ijen Crater (Part 2)

Kawah Ijen

Ok, lanjut dari artikel Ijen Crater part 1. Bagi Ysa yang sebelumnya pernah naik ke Kawah Gunung Ijen di tahun 1999 (ketika masih SMU). Kondisi kali ini berbeda jauh (terutama dari kondisi tubuh). Jika di masa SMU Ysa masih rutin latihan olahraga fisik (ikut klub sepakbola), namun sekarang keseharian Ysa hanya duduk di depan laptop selama 7 jam sehari. Dan jika dihitung bobot tubuh sekarang sudah bertambah 10kg dari dulu yang hanya kisaran 50-53kg (padahal ane masih tergolong kurus lho sekarang😀 ). Sempat lihat di papan Pos Paltuding ketinggian 1850 m dpl, sedangkan puncak kawah di 2386 m dpl. Atau dikalkulasi Ysa harus naik 536 m lagi dengan jarak tempuh 3 km, jalan kaki!!! Awalnya agak sedikit pesimis Ysa mampu selincah dulu ketika naik ke Ijen. Namun melihat cuaca cerah dan juga keterangan dari para penjaga hutan disana yang mengatakan diatas pukul 11 siang, ijen rawan hujan. So .. mau tidak mau Ysa segera berjalan mendaki / menuju ke kawah Ijen.

Dalam perjalanan ini Ysa tidak membawa bekal terlalu banyak. Hanya satu tas yang berisi sebungkus roti, sebotol air mineral, dan jas hujan. Sehingga tidak terlalu menjadi beban bagi Ysa. Jalan yang ditempuh menuju puncak adalah jalan tanah dengan ‘ditaburi’ kerikil-kerikil kecil. Untunglah kondisi tanah agak basah sehingga tidak terlalu licin, mengingat sekarang lagi musim hujan. Karena jika musim kering kerikil-kerikil tersebut sangat licin. Ysa sendiri menggunakan ‘sandal jepit’😀 . bukan karena apa-apa mas bro, tapi hanya sandal jepit inilah yang lebih bergerigi di tapaknya. Kalau pakai sepatu kets malah licin (karena tapak datar), sedangkan pakai sepatu gunung…  masih di toko sepatu belum bisa Ysa ambil sampai sekarang😀 . Saran bagi yg punya budget terbatas kayak Ysa bisa menggunakan sepatu futsal yang bergerigi (kalo punya).

Ijen 1

Masih bisa senyum😀

Lanjut lagee…. Lima ratus meter tanjakan awal masih bisa🙂 (ceria) nih wajah. Ysa berusaha mengatur langkah kecil dan nafas yang teratur (Ibarat lari model joging) karena jika langkah terlalu lebar maka stamina akan langsung terkuras. Lebih baik lambat asal stamina terjaga. Sesekali melihat pemandangan sekitar, terlihat beberapa gunung disebelah selatan jalur pendakian (entahlah apakah Gunung Raung atau Gunung lainnya) Ysa kurang paham akan hal tersebut. Pemandangan Kota Banyuwangi dari atas sangat indah, walupun tidak jelas karena saking jauhnya. Ysa benar-benar menikmati keindahan alam pegunungan yang relatif masih alami, natural, tanpa sentuhan kreatifitas tangan manusia yang berlebihan.

IMG_8509

Tanjakan

tanjakan lageee.... :'(

tanjakan lageee….😥

Namun di 0,5 s/d 2 km berikutnya, barulah siksaan khas tanjakan di Kawah Ijen terasa. Jika sebelumnya Ysa mampu mengatur nafas, dan wajah masih sumringah dan sesekali menyapa para wisatawan yang berpapasan (turun dari kawah) sekarang Ysa benar-benar ngos-ngosan, jantung berdetak kencang… klo dihitung mungkin sekitar 180 dpm (detak per menit) setara lari sprint 100m tanpa henti. Pandangan hanya melihat kebawah, seolah takut terpeleset. Karena ketika melihat ke depan hati tambah ciut, yang ada tanjakan, tanjakan, dan tanjakan… tidak ada sama sekali jalan lempeng barang 5-10 meter. Cuaca dingin sama sekali tidak terasa, jaket yang sebelumnya tertutup rapat Ysa buka lebar-lebar seolah membuka tempat bagi angin tuk meniup tubuh ini, berusaha mengeringkan keringat yang sudah membasahi punggung (koq jadi lebay gini kalimatnya😀 ). Jalan paling jauh hanya sekitar 30-50 m. Selepas itu berhenti setengah sampai satu menit untuk mengatur nafas dan detak jantung. Kemiringan tanjakan yang rata-rata 25-35 derajat bahkan di titik tertentu mencapai 45 derajat benar-benar menyiksa nafas dan jantung Ysa. Wajah sudah tidak lagi sumringah, ketika ketemu wisatawan lain yg turun mereka ikut menyemangati dengan penuh senyuman (mungkin dalam hati mereka bilang, “ayo masih jauh tuh… gue aja bisa, masak lw g’ kuat”). Yah lumayan sebagai penyemangat, namun begitu lihat jalan lagi.. hadehhh… koq tanjakan lagi L . pepohonan yang besar menjulang yang sebenarnya bagus untuk diabadikan Ysa lewati saja tanpa mempedulikannya. Sampai akhirnya setelah sekitar 50 menit mendaki sampailah Ysa di Pos ‘timbangan’. Dinamakan Timbangan karena disinilah proses penimbangan awal Belerang yang diangkut oleh para penduduk dari dasar kawah.

Pekerja Angkut Belerang

Pekerja Angkut Belerang

Ijen 5

Nggak bergerak sama sekali (70-80 kg!!!)

Ijen sangat terkenal akan ‘tambang’ belerangnya. Dimana belerang cair (suhunya bisa diatas 100© celcius) yang baru keluar dari perut gunung akan langsung membeku ketika disiram air dan kemudian akan dibawa oleh para panduduk lokal turun kebawah dari kawah ijen. Ysa sendiri sempat mencoba mengangkat satu ‘rengkek’ belerang (bahasa jawanya satu wadah yang dipanggul) namun jangankan terangkat, bergerak 1 cm pun tidak. Info dari para pengangkut belerang, beratnya untuk sekali angkut antara 70-100 kg per ‘rengkek’. Bahkan bagi yang masih kuat bisa membawa sampai dengan 120 kg belerang sekali angkut.😀 Hampir setara berat kosong New Vixion tuh. Mereka biasanya 1-3 kali naik turun kawah membawa belerang tergantung stamina dan kondisi cuaca. Harga belerang sendiri di kisaran Rp.600,- per kg. Jadi kalau satu orang sanggup membawa 70 kg belerang maka kurang lebih akan dihargai Rp.42.000,- . sungguh hasil yang sangat kecil dibanding usaha dan resiko yang harus dihadapi. Ysa hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sembari mensyukuri nikmat Allah yang telah Ysa dapatkan selama ini dan malah terkadang kebanyakan mengeluh minta lebih.

Ijen 4

Pos Timbangan

Melihat kegigihan para pengangkut Belerang (Ysa tidak mau mengatakan kuli belerang, karena usaha keras mereka benar-benar menjadi kekaguman bagi Ysa) Semangat untuk terus naik ke kawah kembali muncul. Dan untunglah dari Pos Timbangan ke kawah kondisi jalan relatif ‘datar’ (tapi tetap saja menanjak). Tidak ada lagi pepohonan disana, hanya tumbuh-tumbuhan kecil khas tanaman gunung dan tebing-tebing curam yang menghiasi kiri kanan jalan. kabut bercampur asap belerang sudah mulai menyelimuti membatasi jarak pandang. aroma belerang semakin kuat menusuk hidung membuat nafas semakin berat. Jika sebelumnya nafas terengah-engah karena tanjakan, sekarang nafas menjadi sesak karena asap belerang. Ysa sarankan bagi yang baru ke Ijen untuk membawa syal atau masker untuk menutup hidung. Beberapa kali Ysa bersin karena hidung sudah (maaf) ‘mbeler’ karena asap belerang ini. Tak lama kemudian setelah sekitar satu setengah jam mendaki sampailah Ysa di bibir kawah ijen…. awalnya sempat berharap begitu mencapai puncak langsung disambut pemandangan indah kawah ijen. Namun karena Ysa agak kesiangan sampai kawah asap belerang terlanjur menutupi keindahan pemandangan kawah.

Ijen 2

Mendekati Bibir Kawah Ijen

Ysa bersabar sedikit sambil kembali mengagumi usaha para pengangkut belerang, berharap hembusan angin mengusir asap belerang dari bibir kawah dimana Ysa berdiri. Dan benar saja setelah sekitar 15 menit menunggu tiba-tiba para wisatawan pada heboh teriak “itu… itu lho.. cepat!!!” . kirain apaan, ternyata pemandangan kawah terlihat juga. Segera ambil kamera action foto jepret… lihat hasil, ealah dah telat (ketutup awan lagi). Terpaksa tunggu lagi, sampai moment itu kelihatan lagi. Setelah beberapa kali menunggu dan langsung jeprat-jepret dengan kamera digital murah😀 . akhirnya dapat juga fotonya. Ah sukurlah. Tak lupa Ysa Memuji kuasa Tuhan (Subhanallah) atas keindahan alam ciptaannya. It’s beautiful panorama dengan segala aktifitas sosial untuk menyambung hidup. Sungguh sebuah renungan yang benar-benar membuat seorang Hamba Allah bersukur. Tidak hanya dari segi keindahan Ciptaan-Nya, namun juga usaha keras para Pengangkut Belerang yang membuat saya kesekian kali berucap “Alhamdulillah ya Allah atas rizkimu yang Engkau berikan kepadaku, berapapun yang Hamba terima, sungguh nilainya lebih, jika dibanding apa yang mereka usahakan (para pengangkut belerang)”.

IMG_8554

Ketutup Asap belerang😦

Ijen 8

Akhirnya kelihatan juga… “Tuh kawahnya, bagus kan??”

Kurang lebih 30 menit Ysa mondar-mandir di bibir kawah, maunya sih turun ke kawah. Namun melihat asap yang tebal plus, tidak membawa masker, dan waktu yang semakin siang akhirnya Ysa mengurungkan niat untuk turun ke kawah. Mungkin next time dengan waktu yang lebih pagi (dini hari berangkat) dan disertai perlengkapan yang cukup, Ysa berencana turun ke dasar kawah Ijen tempat para penambang belerang beraktifitas. Perjalanan turun lumayan ringan (di 1 km dari kawah), setelah pos timbangan turunan (yang sebelumnya Ysa sebut tanjakan) justru malah sedikit menyiksa tubuh. Sebisa mungkin kita mengerem, menahan agar tidak ‘berlari’ karena turunan yang tajam dan juga berhati-hati agar tidak terpeleset. Memang nafas sudah tidak lagi ngos-ngosan. Namun betis, dan lutut yang harus menanggung nih tubuh.. plus pinggang yang sudah mulai terasa nyeri😀 . beberapa kali berpapasan dengan wisatawan yang baru naik, Ysa hanya senyum aja dalam hati… “masih jauh bro sis, santai aja… penderitaan anda belum berakhir koq”😀 .

Hanya sekitar 40 menit Ysa turun dari kawah ke Pos Paltuding. Dan ketika sampai di Pos Paltuding Tanpa basa-basi langsung cari pelampiasan😀

Ijen 10

Gorengan Hangat… Mantabs

Makan gorengan sambil menunggu pesanan mie rebus plus kopi susu panas, mantap mas bro. suasana pegunungan pegunungan di depan mata  benar-benar membuat hati terasa lega, rasa capek yang benar-benar terbalasakan. Menselonjorkan kaki untuk merenggangkan otot agar tidak kaku atau kram. Untuk harga makanan di warung sekitar Pos Paltuding cukup murah. 4 gorengan, 2 kopi susu, plus Nasi Goreng dan Mie Rebus hanya perlu bayar Rp.20.000,- cukup aman dikantong😀 . setelah puas makan terpaksa Ysa akhiri pendakian ke kawah Ijen kali ini. Untunglah cuaca tidak hujan sehingga jalanan yang turun gampang dilalui roda dua.

Bagi Ysa Wisata di Kawah Ijen menyajikan 3 hal yang sangat bermakna bagi Ysa… Perjuangan yang melelahkan, keindahan panorama yang luar biasa, dan kondisi masyarakat pengangkut belerang. wisata fisik, mata dan hati. Semoga Bro Sis semua berkesempatan menikmatinya suatu saat nanti

Next panduan mendaki ke Gunung Ijen.

Jalan terjal turun ke Kawah

Jalan terjal turun ke Kawah

IMG_8559

Jangan Bosen liat Tampang Ane😀

IMG_8575 Ijen 6 Ijen 9

Jalan terjal Pengangkut Belerang

Jalan terjal Pengangkut Belerang

10 thoughts on “Ijen Crater (Part 2)

  1. para penambang kalo pas ada di kawah dan asap belerang menyembur dengan sangat kuat biasanya mereka pada nyebut, dzikir sambil berdoa, seakan hidup sudah di ujung leher. sambil mulutnya menggigit kain basah untuk bernapas. salut ama mereka bener2 taruhannya nyawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s