Hukum Ekonomi: High Demand, Low Supply, ya harga naik.

dealer motor

Sebuah hukum ekonomi yang sudah umum, dan jamak diikuti oleh pedagang. Tidak peduli dari yang jualan cabai, beras, daging, elektronik maupun otomotif, dari harga ratusan, ribuan, jutaan sampai milliaran semua pasti bakal sejalan dengan hukum tersebut. Ketika sebuah market menerapkan prinsip ekonomi pasar dimana harga tergantung dari permintaan dan ketersediaan barang dipastikan harga bakal fluktuatif. Naik turun tanpa ada batas atas maupun bawah. Jika sembako masih ada campur tangan pemerintah, lha kalau otomotif bagaimana?… agak kompleks sih, namun coba Ysa ulas dari pengalaman pribadi dari sudut pandang penjual motor. Yah kebetulan Ysa pernah tau dan punya sedikit pengalaman berkecimpung bersama para penjual motor.

HDLS

Kondisi 1: Sedikit flashback tentang penjualan motor-motor berikut, V-ixion, Byson, Vario 125, NVL, & CB150R. ketika produk” tersebut launching dan penerimaan masyarakat sangat baik tentu permintaan akan melonjak naik (booming). Jika mengacu pada hukum ekonomi diatas seharusnya boleh dong pedagang (dalam hal ini kita sebut dealer motor) menaikkan harga jual barang dagangan mereka??…. seharusnya boleh, namun market otomotif R2 bukanlah open market dimana semua orang bisa menjadi pedagang di dalamnya. Ada aturan main dari masing-masing pabrikan bagi mereka yang mau menjadi jaringan dealer pabrikan tersebut. Intinya harga jual kendaraan sudah dipatok pabrikan sesuai OTR di masing-masing wilayah. Jadi walaupun permintaan atas motor tersebut diatas tinggi bahkan melampaui ketersediaan barang, pihak dealer tetap tidak bisa menjual motor tersebut diatas harga OTR yang sudah ditentukan. Melanggar ya sanksi dari pabrikan sudah siap menanti :D . aturan ini jelas mengikat, karena pabrikan tidak hanya jual putus (setelah laku ya urusan yang beli). Kendaraan R2 maupun R4 masih dianggap sebagai salah satu alat investasi oleh masyarakat. Sehingga public trust harus tetap dijaga oleh pabrikan terutama terkait harga kendaraan.

Kondisi 1 diatas adalah sebuah ‘berkah’ bagi dealer atas produk yang laris dipasaran. Tapi ingat juga, satu merk tidak hanya satu produk, tapi bisa belasan produk (tipe). Lha kalau total anggaplah 10 produk dan yang ‘berkah’ hanya 4 produk, terus sisanya yang 6 produk dianggap barang ‘apes’ (sial) :D bagaimana di sisi dealer?tentu kebalikan dari kondisi 1, Ysa sebut kondisi 2 lah. Dimana ada tipe yang Low Demand High Supply… konsekuensinya harga turun!!! (Hukum ekonomi kebalikan dari kondisi 1).  Jika permintaan bagus tidak bisa menaikkan harga, jika permintaan jelek terpaksa menurunkan harga. Tapi kan harga sesuai OTR, koq bisa turun??… iya betul sesuai OTR yang tercantum, tapi masih bisa ditawar kan?? Sudah umum ‘penurunan harga’ yang terjadi di akali dengan subsidi uang muka, cash discount, hadiah (kipas angin, HaPe, kulkas, dsb), atau juga cash back. Perlu digaris bawahi disini bahwa harga turun hanya di level dealer (bukan pabrikan) karena pabrikan jual harga ‘fix’ ke dealer, sedang dealer jual harga ‘fluktuatif kebawah’ ke konsumen. Tidak bisa naik tapi bisa turun. Adil opo ora :D ?? walaupun ada kebijakan dan kontrol ketat dari pabrikan (untuk membatasi ‘penurunan harga’) namun terkadang hal tersebut ‘sia-sia’ karena kebutuhan cash flow si pedagang. Pernah dengar cerita seorang owner dealer punya barang ‘apes’ (deathstock) mencapai 30’an motor. Anggap saja harga belinya 10jt/unit, berarti uang 300jt mandeg… deg (diam) tidak menghasilkan apapun. Padahal nilai motor semakin lama semakin turun. Dan untuk ukuran bisnis daripada uang 300jt diam tidak menghasilkan, mending di depositokan dibank dengan bunga 3,25% saja maka per bulan masih bisa dapat 9,75jt!!! (biasanya 9,75 jt ini dianggap patokan rugi oleh pedagang, jika uang 300jt tsb tidak menghasilkan sejumlah 9,75jt sebulan berarti selisihnya dianggap kerugian).

NVL vs CB150R (Otomotifnet)

Sekarang kita tarik benang merahnya dengan kondisi sekarang dimana terjadi indent untuk produk CB150R dan NVL, sehingga banyak calon pembeli cash yang sedikit ‘terkecewakan’ (bukan dikecewakan lho) karena dinomor duakan dibanding calon pembeli kredit. Dari sudut pandang dealer ada perbedaan terutama terkait hasil penjualan cash dengan kredit. Kenapa cash dinomor duakan, ya karena ‘hasil’nya lebih sedikit dibanding kredit. Ora usah dijelaskan lebih dalam itu rahasia dapur para pedagang :D …. kondisi yang ingin Ysa sampaikan adalah ya inilah hal yang dilakukan bagi pedagang untuk bisa menikmati ‘hasil’ lebih dari penjualan tipe motor yang lagi booming. Mereka tidak bisa menaikkan harga sebagaimana hukum ekonomi (HDLS), namun ketika LDHS mereka terpaksa menurunkan harga. Ruang gerak dealer dalam hal penentuan harga sangat terbatas, dan hanya perbedaan cash dan kreditlah mereka bisa mengambil celah untuk mendapat hasil yang lebih banyak. Terlepas untuk menambah penghasilan atau untuk menutup kerugian itu tergantung dari masing-masing dealer. Apakah salah jika pedagang mengambil untung atas barang dagangannya?? Tidak kan?? Asal masih dalam taraf wajar (sesuai OTR). Kalau nemu yang upping price, laporkan saja ke ATPMnya… pasti akan ada tindakan.

Tulisan ini hanya sebagai informasi penyeimbang atas dilema calon pembeli baik cash atau kredit terkait indent barang yang akan mereka beli. Walaupun kita sebagai seorang pembeli berhak membeli barang yang kita inginkan,maka begitu juga penjual juga berhak menjual kepada siapa barang yang dijualnya, Kembalikan saja ke hukum ekonomi yang berlaku. Jika penjual pilih-pilih pembeli, pasti kedepannya banyak calon pembeli yang ogah membeli  ke penjual tersebut. ada impact yang akan ditanggung di masa yang akan datang. Saran Ysa bagi masbro semua yang ingin membeli motor baru, lebih bersabarlah menunggu saat yang tepat untuk membeli motor yang kita inginkan… next artikel akan coba Ysa berikan tips bagaimana membeli motor baru.

Semoga bermanfaat, kurang lebihnya mohon maaf, & Maturtengkyu sudah mampir.

ipanse nyicil

Pict: Pertamax7.com :D :D :D

About these ads

10 thoughts on “Hukum Ekonomi: High Demand, Low Supply, ya harga naik.

    • khusus roda dua, ATPM g’ bs sembarangan naikin harga masbro… coz ada kompetitor yg juga menjadi patokan penentuan harga. kesalahan penentuan harga di depan bisa berakibat fatal di kemudian hari. contoh kasus Xeon katika harga yang dipatok kemahalan, maka penjualan sedikit, dan ketika ada new xeon dgn harga dibawah maka konsumen lama akan tersakiti… IMHO demand hanya bisa diakali dengan suply.. menaikkan harga terlalu beresiko bagi pabrikan…. CMIIW

  1. Hiks jadi gimana nich solusinya. Kalau kata temen bisa diakali dengan membeli di luar kota. Taruhlah di Jakarta yang sangat sulit, mungkin bisa coba hunting ke DIY misalnya. CMIIW :)

  2. betul mas, klo penjual pilih-pilih ke siapa mau jual. dia pasti bakal nanggung rugi juga. soalnya pelanggan yg kecewa bisa merembet (merekomendasikan untuk tdk membeli) kepada koleganya. efek domino lah..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s