Tujuan Beli Motor… Untuk Kepuasan atau Kebanggaan?

1000cc

Berbagi pengalaman pribadi saja nih. Mungkin juga untuk ‘menjernihkan’ berbagai opini para Fans Boy yang  mengatakan produk A ini begini.. .. produk B begitu, sehingga terkadang Non FB pun ikut ‘terkontaminasi’. Rayuan FB disini tidak saya batasi pada dunia internet saja, namun juga di dunia nyata yang namanya FB juga lebih banyak lho… Cuma mereka tidak pernah sampai saling caci maki apalagi sampai punya peternakan ‘hewan’ :D

Dulu pernah mantan cewek Ysa (istri maksudnya) beli motor matic yang belum ngetrend dijamannya, dengan warna pink yang dibilang ‘mbulak’ atau luntur dianggap kurang sreg bagi sebagian orang… apalagi di desa, semua pada bilang motor koq matic… boros lah, di tanjakan g’ kuat lah, body’nya besar, wes macem” pokoknya. Intinya motor yang dianggap motor bagus itu Cuma motor ‘Super X’, irit, bandel, perawatan mudah, resale value tinggi, dsb. Maklum Ysa dulu tinggal di desa dimana pengetahuan orang terhadap motor masih rendah.. dan paling gampang terbawa omongan orang lain. Setelah resmi maried tuh matic akhirnya Ysa sering bawa kerja ke Surabaya. Berhubung rumah ada di Jombang jadi tiap minggu sekitar 2-3 kali pulang pergi Jombang-Surabaya dengan jarak + 70 km. Motor Ysa akui enak, mesin halus, Suspensi belakang nyaman (depan agak keras tapi), tarikan ok, walopun pas start suara blethak  tidak pernah ketinggalan… tapi jujur diwaktu itu emang nih matic mesinnya paling bagus (dan terbukti sekarang masih laris manis). Pernah coba merk matic lain yg lagi ngetrend ketika dipake riding jarak jauh kaki terasa kesemutan, beda ama Matic yang Ysa pakai. Namun setelah 2 tahun (39.000 km) :D tuh matic menemani, akhirnya gejala motor ‘manja’  emang mulai keluar (maklum motor untuk kommuter dalam kota dipake keluar kota hampir tiap hari). Pertama masalah tarikan yang kesendat, kemudian masalah as roda belakang yang bunyi. Akhirnya terpaksa ganti satu set as roda belakang karena cari bearingnya saja tidak tersedia di seluruh Surabaya. Padahal motor sudah kadung nginep di Beres. Indent sparepart ke Jakarta seminggu, kemudian ganti dan masalah beres, total habis sekitar 205rb’an. Padahal bearingnya saja Cuma sekitar 75rb’an. Seminggu kemudian Ysa jual tuh motor, pengen coba motor yang sedikit lebih powerful coz takutnya bakal merembet ke part yang lain, karena seminggu Ysa bisa jalan sampai seribuan kilometer.

My Vario

Matic Ysa tembus tanjakan Sedudo Nganjuk

Ketika memutuskan akan membeli motor apa, sempat di ‘nasehatin’ ama orang” yg lebih tua untuk beli lagi yang Super X 125 saja, tapi Ysa merasa g’ cocok. Motor koq tarikannya berat banget, apalagi buat boncengan hadehhh… gimana mau nyalip bis ‘Sumber Bencana’ di jalur Sby-Jbg yang terkenal jalur tengkorak. Akhirnya pilihan jatuh ke motornya Komeng. Maklum waktu kuliah terkesan ama Torsi tuh motor. Yah walaupun harus menerima ‘rasan-rasan’ dari orang-orang sekitar Ysa (Motor boros, sparepart mahal, harga jual anjlok) tapi jujur nih motor yang bikin Ysa puas. Tarikan yahud, torsi melimpah,  nafas antar gigi panjang, dan enak buat adu kencang ma Bis Sumber”an itu (nyalip maksudnya). Masalah boros… yah itu sama saja kayak matic lah, tapi toh powernya beda, buat jarak jauh melaju 90-100 km/jam enggak nyiksa tuh motor. Beda ama matic yang alamnya harusnya cuma untuk kommuter perkotaan saja…… Buat boncengan dan bawa barang waktu mudik naik turun gunung oke saja, buat rebah di tikungan sampai footstep nggasruk aspal ayo. Hanya masalah getaran yang sedikit bikin keder body aja yang kadang ngeganggu telinga. Tapi diluar itu benar-benar puas akan performa nih motor. Dan mungkin satu lagi yang bagi Ysa ‘melegakan’ yaitu masalah service. Nggak repot antri berjam-jam kalau servis di Beres. Beda ama waktu punya matic yang harus molor ijin ama bos di kantor karena kelamaan antri (maklum, Resiko punya motor merk terlaris).

My MX

Nampang Dikit

IMHO, apabila kita memilih motor sebagai teman transportasi kita sehari-hari pertimbangkanlah tujuan kita memilikinya. Apakah untuk menunjang aktifitas kita atau menunjang prestise kita. Apabila brosis masih mencari ilmu dan masih pada taraf mencari ataupun menunjukkan jati diri (ini loh gue) dengan waktu luang kesehariannya yang lebih banyak, memilih motor yang yang bisa dibanggakan tentu pilihan yang masuk akal. Ini loh motor gue, paling kencang, paling keren, paling laris, dsb. Walaupun banyak kesulitan yang harus dihadapi terkait perawatan, Posisi riding yang sulit, BBM yang boros ataupun Part yang mahal tapi selama nih motor bisa dibanggain apalagi di mata cewek semua kesulitan tersebut masih bisa dianggap sebagai opsi ataupun konsekuensi yang harus kita terima. “resiko punya motor keren je’… :D

Sedangkan bagi kita yang sudah memiliki tanggungjawab dan menggunakan motor sebagai alat transportasi untuk menunjang aktifitas kita sehari-hari, sebaiknya memilih yang sesuai dengan situasi dan kondisi kita. Baik dalam hal jauh dekat tempat kerja, naik turun, macet atau lancar, kemudahan perawatan, kondisi dompet kita (terkait BBM :D ), de’el’el. Artinya kepuasan atas fungsi motor yang kita gunakan harus lebih utama dibanding kebanggaan atas motor tersebut. Terserahlah apa kata orang tentang kendaraan kita, gue is gue (bukan ini loh gue :D ). Kita yang beli, kita yang pake, dan kita yang merasakan enak tidaknya nih motor. Suka duka hanya kita, Tuhan dan Motor itu yang tahu. Mungkin model emang tidak keren, tapi tidak merepotkan kita. Sukur-sukur kita punya motor keren dan tidak merepotkan :D . ibarat punya istri cantik, bisa masak, ngurus anak, ngurus rumah, perhatian sama suami, dan rajin beribadah. (kurang apa coba :D )  Oh ya satu lagi yang selalu jadi prinsip saya. “Saya beli motor tidak untuk dijual, tapi untuk digunakan dan dinikmati” masalah harga jual masih bagus ya berarti bonus.

Loh kan apabila kita bangga berarti kita puas juga toh? Betul, tapi tidak mutlak. Sepuas-puasnya kita naik motor yang kita banggakan  tapi ketika hujan tentu lebih puas naik roda empat kan?atau sebangga-bangganya kita naik moge paling keren sekalipun (seharga ratusan juta) kalau rumah kita jalannya masih tanah dan berlumpur pasti merepotkan. Ada faktor” tertentu yang terkadang sedikit menghilangkan rasa kepuasan kita atas kebanggaan yang dimiliki. Dan ingat, kebanggaan hanya bersifat sementara. Karena ketika new model keluar, kebanggaan tersebut biasanya sudah mulai hilang, sedangkan kepuasan sifatnya melekat ke tunggangan tersebut, bakal berkurang ketika sudah termakan usia, meskipun new model keluar namun selama tunggangan kita masih yahud, kita tidak mudah tergoda.

R6 on Mud

Motor mahal buat berdagang…. di lumpur lagi :D

Terakhir buat Ysa motor itu yang penting bisa dibanggakan (kepada diri sendiri) karena diri kita merasa puas dengan motor yang kita pakai. Terlepas di mata orang lain motor kita inferior… Ysa dalam hati cuma bilang “Gue is Gue…” :D

rat skuter

Rat Scooter Community: kebanggaan itu tidak perlu keren… (Gue is Gue)

Kurang lebihnya mohon maaf, Maturtengkyu sudah mampir.

About these ads

13 thoughts on “Tujuan Beli Motor… Untuk Kepuasan atau Kebanggaan?

  1. sepakat mz bro, klo mtr bwt transportasi bkin puas, rasa bangga akan muncul dg sendirinya..
    ni loh motor ane, bandel, irit, dll.. keren umurny pendek, bangga umurnya panjang..

    have a nice riding.

  2. Kalau aku bangga bisa merawat motor jadoel kuhh mesin bisa lebih prima dari pada motor2 tetangga meskipun keluaran terbaru (tidak termasuk body2 nya ya,,hehee).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s